Pergeseran dari Gentle Parenting ke Pola yang Lebih Tegas dan Berstruktur

Selama beberapa tahun terakhir, istilah gentle parenting atau pengasuhan lembut menjadi mantra baru di dunia parenting. Konsep ini menekankan empati, komunikasi yang penuh kasih, serta pengendalian emosi orangtua dalam menghadapi anak. Banyak orangtua muda menganggapnya sebagai “jalan tengah” dari dua ekstrem pola asuh: otoriter yang keras dan permisif yang terlalu longgar.

Namun, seiring berjalannya waktu, muncul fenomena baru: banyak orangtua mulai merasa kelelahan, bahkan kebingungan, saat menerapkan gentle parenting secara ketat. Kini, tren parenting 2025 menunjukkan pergeseran menuju pola yang lebih tegas dan berstruktur — tanpa kehilangan sisi empatiknya.

Mengapa perubahan ini terjadi? Mari kita bahas bersama.


1. Ketika Kelembutan Menjadi Tantangan Baru

Cr. Pexels

Awalnya, gentle parenting menjadi populer karena menjanjikan hubungan yang lebih harmonis antara orangtua dan anak. Tidak ada teriakan, tidak ada hukuman fisik, hanya komunikasi, empati, dan validasi emosi.

Namun, banyak orangtua kemudian menyadari bahwa pendekatan ini — jika diterapkan tanpa batas yang jelas — bisa berbalik menjadi bumerang.

Orangtua sering merasa “terjebak” dalam dilema: mereka tidak ingin marah atau memberi konsekuensi yang keras, tetapi juga bingung bagaimana menetapkan batas yang tegas ketika anak terus menolak aturan.

Seorang ibu dari komunitas parenting online bahkan menulis,

“Aku merasa bersalah setiap kali tegas ke anak. Tapi kalau aku terlalu lembut, dia jadi tidak menghormati aturan sama sekali. Aku lelah jadi orangtua yang selalu harus sabar tanpa batas.”

Pernyataan seperti ini menggambarkan realita banyak keluarga masa kini: gentle parenting bisa melelahkan ketika tidak disertai struktur dan batasan yang konsisten.


2. Munculnya Konsep “Sturdy Parenting”: Tegas Tapi Tetap Hangat

Sebagai respons atas kebingungan tersebut, kini muncul istilah baru yang mulai populer di media internasional — sturdy parenting, atau bisa diterjemahkan sebagai “pengasuhan yang kokoh.”

Pola ini mencoba menyeimbangkan dua hal penting:

  • Empati dan komunikasi seperti dalam gentle parenting, namun
  • Dilengkapi batas dan konsekuensi yang jelas, seperti dalam pola disiplin positif.

Artinya, orangtua tetap mendengarkan perasaan anak, tetapi tidak kehilangan peran sebagai pemimpin keluarga yang mengarahkan.

Contohnya:
Alih-alih hanya berkata, “Mama tahu kamu sedih, jadi tidak apa-apa kalau kamu tidak mau membereskan mainan,”
orangtua dengan pendekatan kokoh akan berkata,
“Mama tahu kamu sedang malas dan ingin bermain lebih lama, tapi sekarang waktunya membereskan mainan. Setelah selesai, kamu boleh lanjut bermain.”

Nada bicara tetap lembut, tapi arah dan batasnya tegas. Anak belajar bahwa empati tidak berarti bebas tanpa tanggung jawab.


3. Dampak Positif dari Pendekatan yang Lebih Terstruktur

Pendekatan yang lebih berstruktur bukan berarti kembali ke masa lalu yang otoriter. Justru, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak berkembang lebih baik ketika memiliki rutinitas dan batas yang konsisten, asalkan dilakukan dengan kasih.

Beberapa manfaat yang mulai terlihat dari pola “tegas tapi hangat” ini antara lain:

  • Anak merasa aman, karena tahu apa yang diharapkan darinya.
  • Orangtua lebih tenang, karena tidak perlu terus “bernegosiasi tanpa akhir.”
  • Komunikasi tetap terbuka, tetapi tidak sampai membuat orangtua kehilangan arah.
  • Nilai tanggung jawab dan disiplin terbentuk lebih dini.

Pendekatan ini sejalan dengan teori authoritative parenting (otoritatif), yang sudah lama dianggap sebagai pola asuh paling seimbang menurut psikologi perkembangan: penuh kasih, tapi tetap punya kontrol dan struktur yang jelas.


4. Mengapa Banyak Orangtua Kini Beralih?

Cr. Pexels

Ada beberapa alasan mengapa banyak orangtua kini meninggalkan gentle parenting murni dan memilih pendekatan yang lebih kokoh:

a. Realita kehidupan modern

Dengan tekanan pekerjaan, ekonomi, dan kurangnya waktu istirahat, banyak orangtua merasa sulit mempertahankan kesabaran penuh setiap saat. Mereka membutuhkan sistem yang lebih realistis, bukan sekadar idealisme.

b. Anak semakin cerdas dan kritis

Anak-anak zaman sekarang lebih cepat memahami emosi dan argumen. Jika batas tidak jelas, mereka bisa “menguji” orangtua dengan cara halus — misalnya menunda, menawar, atau memanipulasi situasi.

c. Kesadaran akan pentingnya ketegasan yang positif

Banyak psikolog kini menekankan bahwa ketegasan tidak sama dengan kekerasan. Justru, anak belajar disiplin dan rasa hormat melalui batas yang tegas namun dilakukan dengan empati.


5. Cara Menerapkan “Tegas Tapi Hangat” di Rumah

Berikut beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:

  1. Tentukan aturan yang jelas dan konsisten.
    Misalnya: jam tidur, waktu bermain gadget, dan tanggung jawab harian anak.
  2. Gunakan konsekuensi logis, bukan hukuman emosional.
    Jika anak tidak membereskan mainan, konsekuensinya mainan disimpan sementara, bukan dimarahi.
  3. Validasi perasaan anak, tapi tetap arahkan.
    “Mama tahu kamu kecewa karena harus berhenti main, tapi sekarang waktunya makan.”
  4. Jaga nada bicara tetap tenang.
    Ketegasan tidak berarti suara tinggi. Konsistensi jauh lebih berpengaruh daripada volume.
  5. Berikan pujian saat anak mematuhi aturan.
    Penguatan positif membantu anak merasa dihargai saat berperilaku baik.

6. Kesimpulan: Keseimbangan Adalah Kunci

Pergeseran dari gentle parenting menuju pola yang lebih tegas dan berstruktur bukan berarti meninggalkan empati. Justru, ini adalah langkah menuju pengasuhan yang lebih realistis dan seimbang.

Orangtua tetap menjadi figur penuh kasih, namun tidak kehilangan otoritas. Anak tetap dihargai emosinya, namun juga belajar tanggung jawab dan disiplin.

Seperti kata psikolog perkembangan, Dr. Laura Markham,

“Anak tidak membutuhkan orangtua yang selalu lembut, tapi orangtua yang konsisten — yang mencintai tanpa kehilangan arah.”

Dan mungkin, inilah bentuk gentle parenting generasi baru: lembut, tapi kokoh. Hangat, tapi tetap terarah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top